Sabtu, 02 Juli 2016

jalur akademik bukanlah satu-satunya cara untuk meraih prestasi terbaik. Berprestasi juga bisa dilakukan dengan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. 

Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMP N I Giri Marto, Sri Suharni, mengatakan, olahraga dan kegiatan ekstrakulrikuler bisa mengantarkan siswa menuju prestasi tingkat nasional, bahkan internasional. "Kalau bersaing di sisi akademik, agak susah," ujar Harni, Selasa (15/7).

Sekolah yang berlokasi di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ini berupaya
mengembangkan ekstrakurikuler dan kegiatan siswa untuk melatih kepribadian siswa. Menurut dia, berprestasi secara akademik baik, tapi semua tidak cukup. Kegiatan nonakademik, seperti ekstrakurikuler perlu terus dikembangkan untuk melatih kepribadian siswa.

Minat, bakat, dan jiwa kepemimpinan perlu terus dikembangkan seiring dengan melatih kecerdasan anak didik. Di sekolahnya, terdapat lima kegiatan ekstrakurikuler untuk mendukung minat dan bakat anak, seperti karate, tari, karawitan, pramuka, danmarching band. Belum ada kerja sama dengan kampus untuk bersama mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler, semua menggunakan dana dari sekolah.

Tampil di Swiss
Olah raga bisa menjadi salah satu sarana untuk berprestasi. Jika tidak ada halangan, Aliffa Milanisty, siswi yang naik kelas IX di sekolah tersebut, akan menjadi salah satu wakil Indonesia di ajang olimpiade olah raga internasional di Swiss, September mendatang.

Alifa berkesempatan mewakili Indonesia untuk cabang olah raga karate komite untuk berat badan di atas 40 kg. Sebelumnya, ia menjadi juara pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang mewakili Provinsi Jawa Tengah. "Yang juara satu rencananya akan berangkat ke Swiss, ada beberapa orang yang ikut untuk mewakili beberapa katagori," ujar Alifa.

Kesempatan menjadi wakil Indonesia untuk ajang internasional ini tak diperoleh Alifa dengan instan. Rupanya, ia sudah berlatih karate sejak kelas 2 SD. Sejak kecil, ia mengikuti klub karate di Wonogori. Berbagai kompetisi juga telah diikuti, sampai akhirnya kesempatan membawa nama Indonesia di kompetisi internasional.

Hobinya pun makin bisa diasah dengan mengikuti ekstrakurikuler karate di sekolah. Sekolah mengundang pelatih dari luar untuk membimbing siswa-siswa yang berminat mengikuti kegiatan karate. Memang, untuk kegiatan ini peminatnya tidak begitu banyak, hanya sekitar 15 orang.

Aktivitas bela diri ini, kata Alifa, pertama dikenalkan oleh sang ayah yang memang cukup menggeluti olah raga tersebut. Memiliki banyak teman menjadi alasan lain Alifa tetap bertahan menekuni olah raga ini. "Bisa punya banyak teman, sekolah juga sangat mendukung," katanya.

Untuk menularkan minat karate kepada teman-temannya, sejak setahun lalu, Alifa menjadi pelatih dalam kegiatan ekstrakurikuler karate di sekolahnya. Sebelum berangkat ke Swiss, dia disarankan untuk berlatih lebih giat. Pada bulan puasa ini, ia juga tetap menjalani latihan rutin. Latihan dijalaninya sekitar 1,5 jam sebelum berbuka